Yang bikin pembagian tagihan berujung tidak enak biasanya bukan niat buruk, melainkan cara menghitung yang berbeda-beda. Karena itu contoh split bill dengan angka jauh lebih membantu daripada penjelasan panjang.
Di bawah ini empat situasi yang paling sering terjadi, dari yang paling gampang sampai yang paling sering keliru. Semua angkanya dibuat bulat supaya mudah diikuti.
Ringkasan singkat
- Contoh split bill paling sederhana adalah bagi rata, dan itu adil hanya kalau pesanan semua orang setara.
- Pajak dan biaya layanan harus ikut dibagi, proporsional terhadap pesanan masing-masing.
- Menu yang dinikmati bersama dibagi dulu, baru dijumlahkan ke pesanan pribadi.
- Diskon voucher juga dibagi proporsional, bukan dinikmati satu orang.
Contoh split bill 1: bagi rata
Empat orang makan, total menu dua ratus empat puluh ribu, ditambah pajak dan biaya layanan sepuluh persen sebesar dua puluh empat ribu. Totalnya dua ratus enam puluh empat ribu.
Karena pesanan semua orang kurang lebih setara, tagihan dibagi empat. Masing-masing membayar enam puluh enam ribu.
Cara ini paling cepat dan tidak membuat siapa pun merasa dihitung-hitung. Syaratnya cuma satu, yaitu pesanan memang tidak jauh berbeda.
Contoh split bill 2: sesuai pesanan
Masih empat orang dengan total menu dua ratus empat puluh ribu, tetapi pesanannya timpang. A seratus ribu, B tujuh puluh ribu, C empat puluh ribu, dan D tiga puluh ribu.
Pajak dan biaya layanan sepuluh persen ditempelkan ke pesanan masing-masing. Hasilnya A membayar seratus sepuluh ribu, B tujuh puluh tujuh ribu, C empat puluh empat ribu, dan D tiga puluh tiga ribu.
Jumlahnya tetap dua ratus enam puluh empat ribu, sama seperti contoh pertama. Bedanya, D tidak lagi membayar enam puluh enam ribu untuk pesanan tiga puluh ribu.
Selisih untuk D mencapai tiga puluh tiga ribu. Sekali dua kali mungkin tidak terasa, tetapi kalau kelompoknya sering makan bersama, dalam sebulan angkanya jadi berarti.
Contoh split bill 3: ada menu yang dinikmati bersama
Tiga orang makan. Pesanan pribadinya A delapan puluh ribu, B enam puluh ribu, dan C empat puluh ribu, ditambah satu porsi camilan bersama tiga puluh ribu.
Camilannya dibagi tiga lebih dulu, jadi sepuluh ribu per orang. Setelah digabung, subtotal masing-masing menjadi A sembilan puluh ribu, B tujuh puluh ribu, dan C lima puluh ribu.
Baru setelah itu pajak dan biaya layanan sepuluh persen ditambahkan. Hasil akhirnya A sembilan puluh sembilan ribu, B tujuh puluh tujuh ribu, dan C lima puluh lima ribu, dengan total dua ratus tiga puluh satu ribu.
Urutannya penting. Kalau camilan bersama dibebankan ke satu orang lebih dulu, angkanya melenceng dan biasanya jatuh ke orang yang memesankannya.
Contoh split bill 4: saat ada voucher diskon
Dua orang makan, total menu dua ratus ribu. A memesan seratus dua puluh ribu dan B delapan puluh ribu, lalu ada voucher potongan lima puluh ribu untuk seluruh tagihan.
Karena vouchernya berlaku untuk tagihan, bukan untuk menu tertentu, potongannya dibagi mengikuti proporsi pesanan. A menanggung enam puluh persen, jadi mendapat potongan tiga puluh ribu, dan B mendapat dua puluh ribu.
Akhirnya A membayar sembilan puluh ribu dan B enam puluh ribu, dengan total seratus lima puluh ribu.
Yang sering keliru di sini adalah pemilik voucher merasa berhak atas seluruh potongan. Itu bisa saja disepakati, tetapi harus dibicarakan lebih dulu, bukan diputuskan sepihak saat membagi.
Aturan singkat yang berlaku untuk semua contoh
Kalau harus diringkas, urutannya begini:
- Jumlahkan pesanan pribadi tiap orang.
- Bagi rata menu yang dinikmati bersama, lalu tambahkan ke subtotal masing-masing.
- Bagi diskon secara proporsional terhadap subtotal.
- Baru tambahkan pajak dan biaya layanan mengikuti proporsi yang sama.
Membalik urutan langkah tiga dan empat bisa mengubah hasilnya, tergantung apakah diskonnya dihitung sebelum atau sesudah pajak. Kalau ragu, ikuti urutan yang tertulis di struk.
Setelah dibagi, jangan berhenti di situ
Pembagian selesai bukan berarti urusannya selesai. Kalau kamu yang menalangi, ada dua angka yang perlu kamu simpan.
Yang pertama porsimu sendiri, dan itu pengeluaran. Yang kedua talanganmu untuk orang lain, dan itu piutang, bukan pengeluaran.
Mencampur keduanya membuat rekap bulananmu meleset jauh. Cukup ketik "talangin makan bareng 264rb, porsi aku 66rb" lewat BotMoni di WhatsApp, dan angkanya tersimpan terpisah. Kalau kamu ingin menelusuri talangan yang belum kembali, bahasan contoh split bill sampai ke pencatatannya melanjutkan bagian ini.
Otoritas Jasa Keuangan lewat Sikapi Uangmu menempatkan pencatatan piutang, termasuk yang kecil, sebagai bagian dari pengelolaan keuangan pribadi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah pajak selalu harus dibagi proporsional?
Untuk pembagian sesuai pesanan, ya. Kalau kalian sepakat membagi rata seluruh tagihan, pajaknya otomatis ikut terbagi rata dan tidak perlu dihitung terpisah.
Bagaimana kalau ada yang datang belakangan dan cuma pesan minum?
Hitung sesuai pesanannya saja. Membagi rata dalam situasi ini hampir selalu terasa tidak adil bagi yang datang belakangan.
Bagaimana kalau totalnya tidak habis dibagi rata?
Bulatkan ke atas untuk sebagian orang, atau minta satu orang menanggung sisa recehnya secara bergantian. Yang penting jangan selalu penalang yang menanggung sisanya.
Perlukah menyimpan struk setelah dibagi?
Perlu, sampai semua orang mengganti. Struk adalah satu-satunya rujukan yang tidak bisa diperdebatkan kalau ada yang lupa memesan apa.
Kesimpulan
Contoh split bill di atas memperlihatkan satu pola yang sama: adil bukan berarti sama besar, melainkan sesuai yang dinikmati. Urutannya pun tetap, dari pesanan pribadi, menu bersama, diskon, lalu pajak.
Sepakati caranya sebelum memesan, bukan setelah struk datang. Dan kalau kamu yang menalangi, pisahkan porsimu dari talanganmu, karena hanya salah satunya yang benar-benar uang keluar.
Menulis untuk BotMoni tentang kebiasaan mencatat, arus kas harian, dan cara membuat rekap uang lebih mudah dipakai.