Mengatur keuangan bukan cuma soal berhemat. Salah satu kebiasaan paling sederhana yang bisa membantu kondisi finansial menjadi lebih sehat adalah mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran.
Sayangnya, banyak orang sudah berniat mencatat keuangan tetapi berhenti setelah beberapa hari. Alasannya beragam: lupa, merasa ribet, tidak sempat membuka spreadsheet, atau bingung harus mulai dari mana.
Padahal, cara mencatat keuangan pribadi sebenarnya bisa dibuat sangat sederhana. Yang terpenting bukan seberapa rumit sistem pencatatannya, tetapi seberapa konsisten kita melakukannya.
Mengapa Mencatat Keuangan Itu Penting?
Pernah merasa uang baru masuk tetapi beberapa hari kemudian sudah tidak tahu digunakan untuk apa?
Hal seperti ini sering terjadi bukan karena kita terlalu boros, tetapi karena banyak pengeluaran kecil yang tidak terasa.
Contohnya:
- Kopi Rp20.000
- Ongkir Rp15.000
- Jajan Rp25.000
- Parkir Rp5.000
- Langganan aplikasi Rp50.000
Jika dilihat satu per satu, jumlahnya memang terlihat kecil. Tetapi ketika dikumpulkan selama satu bulan, nilainya bisa cukup besar.
Dengan mencatat keuangan, kita bisa mengetahui ke mana sebenarnya uang kita pergi.
Cara Mencatat Keuangan Pribadi untuk Pemula
Tidak perlu langsung membuat sistem keuangan yang rumit. Mulailah dari beberapa langkah sederhana berikut.
1. Catat Semua Pemasukan
Langkah pertama adalah mengetahui berapa uang yang masuk.
Pemasukan bisa berasal dari:
- Gaji
- Pendapatan usaha
- Freelance
- Bonus
- Komisi
- Pendapatan sampingan
- Pemasukan lainnya
Misalnya:
Gaji: Rp5.000.000
Freelance: Rp750.000
Total pemasukan bulan tersebut berarti Rp5.750.000.
Dengan mengetahui jumlah pemasukan, kita mempunyai batas yang jelas mengenai kemampuan keuangan kita selama satu bulan.
2. Catat Pengeluaran Sekecil Apa Pun
Ini bagian yang sering dilewatkan.
Pengeluaran Rp10.000 mungkin terlihat tidak penting untuk dicatat. Tetapi jika transaksi kecil seperti ini terjadi berkali-kali, jumlah akhirnya bisa cukup besar.
Karena itu, biasakan mencatat transaksi segera setelah terjadi.
Misalnya:
- Makan siang — Rp25.000
- Transportasi — Rp15.000
- Kopi — Rp18.000
- Belanja kebutuhan rumah — Rp120.000
Semakin lengkap pencatatannya, semakin akurat gambaran kondisi keuangan kita.
3. Kelompokkan Pengeluaran Berdasarkan Kategori
Setelah transaksi mulai tercatat, kelompokkan berdasarkan jenis pengeluaran.
Beberapa kategori yang bisa digunakan antara lain:
- Makanan
- Transportasi
- Tagihan
- Belanja
- Hiburan
- Pendidikan
- Kesehatan
- Cicilan
- Tabungan
- Lainnya
Tujuannya bukan sekadar membuat catatan terlihat rapi.
Dengan kategori, kita bisa melihat bagian mana yang paling banyak menghabiskan uang.
Misalnya setelah satu bulan ternyata pengeluaran terbesar berasal dari makanan dan belanja online. Dari situ kita bisa menentukan bagian mana yang perlu dikurangi.
Jangan Menunggu Akhir Bulan untuk Mencatat
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah menunda pencatatan.
Kita berpikir:
*"Nanti malam saja dicatat."*
Kemudian berubah menjadi:
*"Besok saja."*
Akhirnya satu minggu berlalu dan kita sudah lupa transaksi apa saja yang dilakukan.
Karena itu, cara paling efektif adalah mencatat transaksi sesaat setelah transaksi terjadi.
Masalahnya, membuka spreadsheet atau aplikasi setiap kali membeli sesuatu terkadang terasa merepotkan.
Untuk kondisi seperti ini, pencatatan lewat percakapan bisa menjadi alternatif.
Misalnya cukup mengirim pesan:
“Makan siang 25 ribu.”
atau
“Beli bensin 50 ribu.”
Transaksi kemudian dapat dicatat tanpa harus mengisi banyak kolom secara manual.
Kalau ingin mencoba cara seperti ini, kamu bisa menggunakan BotMoni, bot pencatat keuangan yang membantu mencatat transaksi melalui percakapan.
4. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Tidak semua pengeluaran memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Secara sederhana, pengeluaran dapat dibagi menjadi dua.
Kebutuhan
Pengeluaran yang memang diperlukan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.
Contohnya:
- Makanan
- Tempat tinggal
- Transportasi
- Listrik
- Internet
- Pendidikan
- Kesehatan
Keinginan
Pengeluaran yang sebenarnya bisa ditunda atau tidak dilakukan.
Contohnya:
- Upgrade gadget padahal perangkat lama masih berfungsi
- Belanja karena diskon
- Nongkrong terlalu sering
- Membeli barang karena tren
Bukan berarti keinginan harus dihilangkan sepenuhnya. Tujuannya adalah mengetahui berapa banyak uang yang digunakan untuk kebutuhan dan berapa banyak untuk keinginan.
5. Cek Kondisi Keuangan Secara Berkala
Mencatat transaksi saja belum cukup.
Luangkan waktu untuk melihat kembali catatan keuangan.
Tidak harus setiap hari. Kamu bisa melakukan evaluasi seminggu sekali dan evaluasi yang lebih lengkap pada akhir bulan.
Beberapa pertanyaan sederhana yang bisa digunakan:
- Berapa total pemasukan bulan ini?
- Berapa total pengeluaran?
- Kategori apa yang paling besar?
- Apakah ada pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi?
- Berapa uang yang berhasil ditabung?
Dari sini, catatan keuangan berubah menjadi informasi yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan.
6. Buat Target Keuangan yang Realistis
Setelah mengetahui pola pemasukan dan pengeluaran, langkah berikutnya adalah membuat target.
Misalnya:
Target tabungan: Rp500.000 per bulan
atau:
Maksimal pengeluaran makan di luar: Rp700.000 per bulan
Target seperti ini jauh lebih mudah dievaluasi jika seluruh transaksi sudah tercatat.
Hindari membuat target terlalu ekstrem.
Mengurangi pengeluaran dari Rp3 juta menjadi Rp1 juta dalam satu bulan mungkin sulit dilakukan. Lebih baik melakukan perubahan kecil tetapi konsisten.
Pilih Cara Mencatat Keuangan yang Paling Mudah Dilakukan
Ada banyak cara mencatat keuangan pribadi.
Kamu bisa menggunakan:
- Buku catatan
- Microsoft Excel
- Google Sheets
- Aplikasi pencatat keuangan
- Bot pencatat keuangan
Tidak ada metode yang selalu paling baik untuk semua orang.
Kalau nyaman menggunakan spreadsheet, gunakan spreadsheet.
Kalau lebih sering menggunakan smartphone, aplikasi pencatat keuangan mungkin lebih praktis.
Sedangkan kalau sering lupa membuka aplikasi hanya untuk mencatat transaksi, metode berbasis percakapan bisa menjadi pilihan.
BotMoni, misalnya, dibuat sebagai asisten pencatat keuangan AI yang membantu membuat proses mencatat transaksi terasa lebih sederhana.
Kamu tinggal membiasakan diri mencatat ketika transaksi terjadi, bukan menunggu sampai malam atau akhir minggu.
Coba pencatatan keuangan dengan BotMoni
Aplikasi Pencatat Keuangan Juga Bisa Membantu
Selain melalui bot, penggunaan aplikasi akan lebih nyaman ketika ingin melihat pencatatan keuangan melalui tampilan yang lebih terstruktur.
Dengan aplikasi pencatat keuangan, riwayat transaksi dapat dilihat kembali sehingga kita tidak hanya mencatat, tetapi juga mulai memahami kebiasaan finansial sendiri.
Untuk kebutuhan tersebut, tersedia BotMoni – Asisten Pencatat Keuangan AI.
Install BotMoni – Asisten Pencatat Keuangan AI
Kamu juga bisa memulai dari bot WhatsApp terlebih dahulu jika ingin mencoba proses pencatatannya.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mencatat Keuangan
Ada beberapa kebiasaan yang membuat pencatatan keuangan akhirnya berhenti di tengah jalan.
Membuat Sistem Terlalu Rumit
Terlalu banyak kategori dan detail justru bisa membuat malas mencatat.
Mulailah sederhana.
Hanya Mencatat Pengeluaran Besar
Pengeluaran kecil yang berulang justru sering menjadi sumber kebocoran keuangan.
Tidak Pernah Mengevaluasi Catatan
Catatan keuangan sebaiknya digunakan untuk mengambil keputusan, bukan sekadar dikumpulkan.
Tidak Konsisten
Lebih baik memiliki sistem sederhana yang digunakan setiap hari daripada sistem sangat lengkap yang hanya digunakan selama satu minggu.
Konsistensi Lebih Penting daripada Sistem yang Rumit
Pada akhirnya, tujuan mencatat keuangan bukan membuat laporan yang terlihat sempurna.
Tujuannya adalah memahami kondisi keuangan sendiri.
Mulailah dengan satu kebiasaan sederhana:
Setiap ada uang masuk atau keluar, catat.
Setelah dilakukan secara konsisten, kamu akan mempunyai data yang semakin lengkap tentang kondisi keuanganmu.
Dari data tersebut, kamu bisa mengetahui kebiasaan pengeluaran, menentukan anggaran, membuat target tabungan, dan mengambil keputusan keuangan dengan lebih baik.
Kalau pencatatan manual terasa sulit dilakukan secara konsisten, gunakan cara yang paling dekat dengan kebiasaan sehari-hari. Bisa melalui aplikasi maupun cukup dengan mengirim pesan ke bot pencatat keuangan.
Yang paling penting bukan alatnya.
Yang paling penting adalah mulai mencatat dan terus melakukannya.
##
Menulis untuk BotMoni tentang kebiasaan mencatat, arus kas harian, dan cara membuat rekap uang lebih mudah dipakai.