Kebiasaan

Cara Mengatur Uang Gaji Harian Supaya Tetap Ada Tabungan

Ramlann Hamdani

Terbit · 5 menit baca

Cara mengatur uang gaji harian yang bekerja adalah membagi setiap upah menjadi tiga bagian di hari yang sama: untuk hari ini, untuk hari tanpa kerja, dan untuk tabungan. Upah harian yang dipegang utuh terasa cukup di sore hari dan habis di malam hari, dan saat hujan atau sakit datang, tidak ada apa-apa. Artikel ini menjelaskan pembagiannya dengan angka nyata, cara membangun bantalan untuk hari kosong, dan cara mencatatnya dengan satu pesan per hari.

Panduan ini untuk buruh harian, pekerja proyek, kuli angkut, pedagang keliling, dan siapa pun yang dibayar per hari dan tidak dibayar saat tidak bekerja.

Ringkasan singkat

  • Cara mengatur uang gaji harian: bagi tiga di hari yang sama, sebelum uangnya terpakai.
  • Bagian hari kosong adalah yang terpenting; itu gaji untuk hari hujan dan sakit.
  • Tabungan sekecil apa pun, tetapi setiap hari.
  • Kebutuhan rumah dibayar dari bagian harian, bukan dari upah utuh.
  • Catat upah dan pengeluaran dengan satu pesan tiap malam.

Kenapa upah harian terasa tidak pernah cukup

Bukan karena kecil, melainkan karena tidak ada hari libur yang dibayar. Sebulan ada sekitar 26 hari kerja dan 4 hari libur, belum termasuk hujan, sakit, atau proyek yang sepi. Upah 26 hari harus cukup untuk 30 hari, dan tanpa pembagian, ia hanya cukup untuk 26.

OJK lewat Sikapi Uangmu menganjurkan pekerja dengan penghasilan tidak tetap untuk menyisihkan bantalan lebih dulu, karena hari tanpa penghasilan bukan kemungkinan, melainkan kepastian. Yang membedakan hanya kapan datangnya.

Tiga jebakan upah harian

  1. Menganggap upah hari ini sebagai uang hari ini seluruhnya.
  2. Membayar kebutuhan bulanan seperti kontrakan dengan mengumpulkan dari sisa, yang sering tidak ada.
  3. Berutang di hari kosong, lalu upah hari berikutnya langsung habis untuk melunasinya.

Cara mengatur uang gaji harian: bagi tiga setiap hari

Lakukan saat upah diterima, sebelum pulang, sebelum belanja. Upah Rp150.000 sebagai contoh.

Bagian 1: untuk hari ini, Rp100.000

Makan, transportasi, rokok atau jajan, dan jatah rumah untuk hari itu. Ini yang boleh habis. Kalau bersisa, sisanya masuk bagian kedua.

Bagian 2: untuk hari kosong, Rp30.000

Ini "gaji" untuk hari hujan, hari sakit, dan hari libur. Rp30.000 kali 26 hari kerja adalah Rp780.000, cukup untuk sekitar tujuh hari kosong dengan jatah harian yang sama. Simpan terpisah, dan hanya diambil saat benar-benar tidak bekerja.

Bagian 3: tabungan, Rp20.000

Kecil, tetapi setiap hari. Sebulan Rp520.000, setahun lebih dari Rp6.000.000. Ini untuk kebutuhan besar seperti sekolah anak, perbaikan rumah, atau modal usaha kecil, bukan untuk hari kosong.

Kebutuhan bulanan dari bagian harian

Kontrakan, listrik, dan sekolah anak dibayar bulanan, sedangkan upah harian. Jembatannya adalah menyisihkan bagian bulanan setiap hari.

  1. Jumlahkan kebutuhan bulanan: misalnya kontrakan Rp600.000, listrik Rp100.000, sekolah Rp200.000, total Rp900.000.
  2. Bagi dengan 26 hari kerja: sekitar Rp35.000 per hari.
  3. Angka itu diambil dari bagian harian setiap hari dan disimpan di tempat terpisah bernama "bulanan".
  4. Saat tanggalnya tiba, uangnya sudah ada; tidak perlu mengumpulkan mendadak.

Dengan BotMoni, upah dan pengeluaran dicatat dari WhatsApp dengan satu pesan tiap malam, misalnya "upah 150rb, makan 30rb, ongkos 15rb", dan rekap mingguan menunjukkan berapa hari kerja, berapa masuk, dan berapa yang benar-benar tersisa.

Menjaga bantalan hari kosong

  • Bagian hari kosong disimpan terpisah dari uang harian, di dompet lain atau rekening tanpa kartu.
  • Diambil hanya saat tidak bekerja, sebesar jatah harian, bukan seluruhnya.
  • Setelah hari kosong lewat, isi kembali dari bagian kedua seperti biasa.
  • Kalau bantalan sudah cukup untuk dua minggu kosong, bagian kedua boleh dialihkan sebagian ke tabungan.

Bantalan yang cukup mengubah hujan dari bencana menjadi hari istirahat. Itu perubahan terbesar yang dirasakan pekerja harian yang uangnya dibagi.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah cara mengatur uang gaji harian ini bisa untuk pedagang keliling?

Bisa, dengan satu tambahan: modal dagang besok dipisahkan lebih dulu sebelum tiga bagian. Yang dibagi adalah untung bersih, bukan seluruh uang hasil jualan.

Bagaimana kalau upahnya tidak selalu sama?

Bagi dengan persentase, bukan angka tetap: sekitar 65% untuk hari ini, 20% hari kosong, 15% tabungan. Hari yang upahnya besar mengisi bantalan lebih banyak.

Kalau ada utang, bagian mana yang dipakai?

Cicilan utang masuk ke kebutuhan bulanan dan disisihkan tiap hari. Jangan mengambil dari bantalan hari kosong; kalau bantalan habis, utang berikutnya pasti datang.

Perlu buku untuk mencatat?

Cukup satu pesan tiap malam dari HP. Yang penting upah dan pengeluaran tercatat tiap hari, supaya jumlah hari kerja dan sisa uangnya terlihat tiap minggu.

Kesimpulan

Cara mengatur uang gaji harian adalah membagi setiap upah menjadi tiga di hari yang sama, menyisihkan kebutuhan bulanan sedikit setiap hari, dan mencatatnya dengan satu pesan tiap malam. Bantalan hari kosong yang terbentuk pelan-pelan itulah yang membuat hujan berhenti menakutkan. Mulai dengan cara mengatur uang gaji harian yang dicatat satu pesan per hari di WhatsApp. Anjuran OJK untuk penghasilan tidak tetap ada di Sikapi Uangmu, dan pertanyaan tentang paket gratis dijawab di FAQ BotMoni.

Ramlann Hamdani

Menulis untuk BotMoni tentang kebiasaan mencatat, arus kas harian, dan cara membuat rekap uang lebih mudah dipakai.

Baca berikutnya

Tulisan lain yang searah.

Coba minggu ini

Tiga puluh hari, lalu lihat angkanya sendiri.

Paket Starter gratis dan tidak butuh kartu. Cukup satu nomor WhatsApp yang sudah kamu pakai tiap hari.